PILKADA : PERSAUDARAAN DAN SILATURAHMI JANGAN LOCKDOWN

PILKADA : PERSAUDARAAN DAN SILATURAHMI JANGAN LOCKDOWN

“Ini hanyalah pesta rakyat, maka kita wajib mengajak rakyat untuk berbangga dan bergembira”.

Menertawakan orang lain itu mudah, yang muskil sesungguhnya kesanggupan menertawakan diri sendiri. Mengkritik lisan itu tak butuh pikiran panjang, yang harus terus dikedepankan sebenarnya keterampilan mengkritik diri sendiri.

TemanMudata

Justru disinilah letak persoalan itu. Kita lebih awas melihat ke luar, dan enggan menelisik kedalam. Lebih senang mencela daripada menata.

Sepanjang ini yang dilakukan, selamanya kehidupan menjadi hiruk-pikuk dengan pernyataan, miskin penghayatan. Gemuruh percakapan, tetapi defisit pengamalan. Sibuk mencerca, tetapi tak mau mengaca.

Di titik ini kita menjadi paham mengapa filsuf Konfusius berujar bahwa hal pertama yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat ketika hendak membangun daerah berkeadaban adalah terjaga dalam kata.

Kecermatan mengelola pembicaraan. Menata kata sebagai langkah awal menata batu-bata peradaban. Ketika kata-kata tidak tertib, jangan harapkan tercipta ketertiban di ruang publik. Kata-kata itu, ucap Martin Haidegger, adalah rumah eksistensial sekaligus modus manusia “mengada”. Kata-kata secara otentik bisa merumuskan secara ontologis sejatinya siapakah kita.

Sebelum berubah menjadi konflik fisik dan peperangan berkepanjangan, awalnya adalah kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik dalam konteks ini; ya, kata-kata serampangan (sembarangan/piti kana-kanai/asal bunyi/dll), tak bertanggungjawab dan sewenang-wenang. Bisa bernama penafsiran keliru, dogma kebencian, sejarah yang dibelokkan atau ramalan tak jelas acuannya.

Kekerasan simbolik biasanya menjadi landasan legitimasi seseorang absah melakukan tindakan kekerasan fisik. Ketika api sudah berkobar, yang terbakar segenap hal. Capaian peradaban roboh. Yang sulit disembuhkan adalah hancurnya relasi sosial dan trauma psikologis berkepanjangan.

Maka kita menjadi mengerti, etik keutamaan yang selalu diserukan para nabi adalah kecermatan berbicara, kefasihan menarasikan data, dan keteguhan menyuarakan kebenaran.

Sidharta Gautama sampai harus bermigrasi dari posisi semula sebagai politisi menuju pohon bodhi untuk bermeditasi sampai kemudian pewahyuan Illahi menghampiri dan akhirnya setiap kata-katanya rajah kebenaran. Nabi Isa menyerukan puasa berbicara dan atau nabi Muhammad yang hanya memberikan dua opsi; berkata benar atau diam.

Pilkada; Bicara Kata dan Kita

Selepas khatamnya orde baru yang benar-benar terasa wujud kebebasan berbicara. Sayang kita sering jatuh dari kutub ekstrem satu terdampar pada medan blok ekstrem lainnya. Masa orde baru pembicaraan dikendalikan dan segenap penafsiran dimonopoli penguasa. Saat ini situasinya berbanding terbalik secara diametral. Sekarang tidak ada lagi yang tidak boleh dibicarakan. Semua diterabas. Hasilnya adalah suplus kata-kata, tetapi tunamakna, sibuk berpidato namun kehilangan arti, ramai orasi tapi tak punya jejak faedah sama sekali.

Sekarang bukan hanya politikus dan pemerintah, masyarakat juga sekarang sedang berlomba berebut mickrofon meneriakkan hal ihwal. Semua merasa wajib ditulis tanpa mesti memperhitungkan sama sekali siapa pembacanya. Tidak ada yang mau mengambil posisi pendengar, karena seluruhnya bernafsu menjadi pembicara. Apa isi pembicaraan? Tidak penting. Sebab yang penting bergeser menjadi bicara itu sendiri.

Sepanjang garis Pilkada yang tampak adalah podium yang disesaki kerumunan manusia yang sedang merayakan pembicaraan tanpa tapal batas. Kalau dahulu ada yang dianggap tabu, semisal menyoal SARA, hari ini tabu itu punah. SARA justru menjadi komoditas menjanjikan sebagai jualan paling efektif dan murah meriah untuk mendulang suara atau mungkin popularitas.

Pilkada menjadi panggung buat para demagog, pendakwah, dan tukang obat. Dan yang memerankan profesi itu; kita semua. Semuanya. Kalau dulu Bung Karno berpidato di lapangan IKADA segenap khalayak senyap menyimak saksama, sekarang seorang pemimpin berpidato semua ikut terlibat menanggapi dan tidak kalah banyaknya adalah tanggapan nyinyir dan penuh hujatan. Tak pernah paham puisi tiba-tiba menjelmakan diri sebagai kritikus. Puisi dibantai nalar teologi yang kebablasan. Tidak mengerti agama, diingatkan malah murka. Ulama sungguhan di bully, ustaz gadungan dibela. Manusia dengan semangat menjadi komentator kalap dan meluap-luap.

Kalau sepak bola dijadikan metafora Pilkada, semua penonton tampil riuh sebagai komentator dari kesebelasan yang tidak kunjung beranjak mutunya. Sementara wasit mengambil keputusan sering kali dirasuki keraguan sehingga oleh kedua belah dianggap vonisnya merugikan. Kerumunan penonton partisan yang selalu siaga melakukan tawuran dengan meneriakkan yel-yel kebencian. Siap menyulut stadion yang justru dibangun dari pajak mereka sendiri.

Media Sosial; Ajang Persaudaraan Online

Tentu saja lapangan terbuka dan pengerahan massa besar-besaran itu sekarang bermetamorfosis menjadi media sosial. Karakteristik dan polanya serupa. Status di Facebook, Instagram, cuitan di Twitter, dan atau kabar di WhatsApp sesungguhnya bukan bentuk bahasa tulisan, tetapi lebih dekat kepada bahasa lisan yang dituliskan serampangan (sembarangan/piti kana-kanai/asal bunyi/dll). Tidak kita temukan di dalamnya argumentasi memadai, refleksi dalam atau hujjah yang cukup.

Lebih gila lagi pesan “verbal” itu dikuatkan dengan meme. Agar sampai kepada khalayak luas, maka di-viralkan sedemikian rupa. Seringkali isinya tidak kita baca, tetapi karena semangat menyala-nyala yang menggerakkan jari telunjuk sekelasnya membagikan (share) kepada orang atau grup yang kita anggap harus mengetahuinya. Pasca kebenaran followers (pengikut) menggeser konsep umat dan warga.

Berbeda dengan kerangka (frame) umat dan warga, dalam followers sahih dan batil itu tolak ukurnya “viral”. Kalau dalam kriterianya hadis ada yang namanya “mutawatir” dimana umat tak mungkin bersengkokol dusta. Dalam media sosial dusta itu sengaja “diciptakan” agar berita itu “menarik”, heboh dan banyak orang “tertipu”. Hak terjungkal, yang tersisa adalah hoax. Aletheia hilang dan yang menjamur doxa.

Demokrasi dan konsep kewargaan abad ke-21 menemukan tantangannya sendiri, nasionalisme kenegaraan dan kedaerahan mendapatkan dinamiknya yang pelik. Keliru dalam menyikapi kesimpangsiuran percakapan yang tak terkendali, maka lonceng kehancuran kita tinggal menunggu waktu. Tepat di titik ini revolusi sosial Timur Tengah yang dikenal dengan “musim semi” Arab dimulai, yang kemudian menjalar kemana-mana.

Silaturahmi; Tradisi Saling Menghargai

Hanya penguatan tradisi silaturahmi, saling merangkul dan menghargai yang bisa menjadi jawaban sengkarut semua itu. Silaturahmilah yang akan membuat kita baik sebagai penganut agama maupun bagian dari warga bangsa selalu berbicara sesuai takarannya. Kapan harus berbicara dan isi pembicaraan seperti apa yang mesti disampaikan. Saling menghargai sebagai jembatan emas agar media sosial bisa dijadikan modal sosial dan kapital kultural membangun keadaban daerah.

Silaturahmi menjadi syarat mutlak agar kita tidak mudah ditipu para pencari suaka politik dan juga tidak punya keinginan memanipulasi berita untuk kepentingan tidak jelas. Dalam atmosfer silaturahmi, gotong royong yang disebut-sebut roh Pancasila oleh Bung Karno akan menemukan jiwanya yang hakiki. Orang saling membantu satu dengan lainnya bukan karena alasan partisan, melainkan demi meretas jalan menuju kebaikan semua (masyarakat), tegaknya kehormatan daerah yang dibalut dengan rasa kemanusiaan.

Bukankah ayat pertama yang diserukan Nabi Muhammad adalah keterampilan membaca, IQRA ! Dalam jantung iqra kita menjadi warga terdidik. Membaca diri, sejarah, dan masa depan. Spirit silaturahmi, saling menghargai yang akan menggerakkan mesin demokrasi “Pilkada’ tidak hanya berhenti sebatas elektoral-prosedural, tetapi bergerak menuju khitahnya; demokrasi substansial.

Pilkada sebagai gerbang pembebasan dilakukan secara paripurna dan kemerdekaan bisa diserap dengan utuh. Tanpa semangat silaturahmi, selamanya kita sibuk menertawakan lisan sambil lebay melakukan pendakwaan bahwa diri paling benar.

Oleh sebabnya, mari kita semua merawat persaudaraan dan silaturahmi. Dengan cara itu kita sedang membentangkan sajadah kebaikan bagi generasi mendatang.

Copyright © 2020 . Developed by Teman Mudata

%d blogger menyukai ini: